DELAPAN MOMENTUM KEPEMIMPINAN SEJATI

Sesuatu yang Ideal harus di buktikan kegunaan nya. Memenuhi syarat-syarat ideal kepeimpinan belum berarti bahwa seseorang sudah menjadi pemimpin sejati. Kepemimpinan tidak berkembang dalam suatu ruangan yang hampa, tetapi di dalam ruang yang penuh dinamika kehidupan dengan berbagai ciri kontektual dalam watu tak terbatas.

Untuk dapat di katakan sebagai pemimpin sejati, maka selain memiliki syarat-syarat dasar yang ideal, ia harus melewati momnentum penentuan yang akan terus berulang sepanjang umur nya. Pemimpin sejati di akui kepeminpinannya bukan hanya selama dia hidup, tetapi sesudahnya. Pengakuan tersebut berdasarkan keikhlasan akali dan nurani orang-orang yang pernah di pimpin nya, ataupun yang mengenalnya dengan baik.

Momentum-momentum penentuan tersebut adalah serentetan dinamika yang di mulai dari dan berakhir dengan diri sang pemimpin, melalui interaksi dengan orang yang di pimpinnya dan dengan lingkungan dimana ia dan orang yang di pimpinnya berada.

Adapun delapan momentum yang menentukan dan menjadi ujian kepemimpinan sejati. Ibarat naik tangga maka setiap momentum harus di lewati dengan baik dan jangan yang ada terlewati atau di lompati> Bisa saja ada orang yang sengaja atau tidak melompati satu atau beberapa anak tangga, tetapi pada suatu saat ia akan terpaksa untuk kembali pada anak tangga yang terlompati tersebut.

Tingkat kesulitan bertambah dari momentum ke momentum. Momentum ke delapan adalah yang paling sulit, tetapi hal itu mungkin bila seseorang sudah berhasil melewati momentum ke tujuh juga sangat sulit, tetapi bisa terjadi kalau momentum ke enam bisa terlampaui. Momentum ke enam hanya bisa di lewati apa bila sudah mengalami momentum kelima. demikian seterusnya momentum terdahulu merupakan pra kondisi untuk momentum berikutnya.

  1. Menyadari Panggilan

Semua orang yang normal terpanggil untuk memimpin, tetapi tidak semua menyadari panggilan tersebut. Hanya orang-orang yang memiliki citra atau self esteem yang benar yang akan memberikan response terhadap panggilan kepemimpinan.

Panggilan untuk jadi pemimpin terjadi sewaktu-waktu ataupun sepanjang hidup sesuai dengan talenta, kemampuan yang dimiliki masing-masing dan konteks masalah dan lingkungan dimana seseorang berada.

Orang yang mempunyai talenta secara alamiah dalam bidang tertentu, terpanggil secara alamiah pula untuk memimpin di bidang tersebut. Orang yang karena pendidikan dan pengalamannya memiliki pengetahuan tertentu, terpanggil untuk memimpin sesuai dengan tanggung jawab keilmuan dan pengetahuan yang dimilikinya.

Dimana mana di setiap waktu ada peluang untuk kepemimpinan dan kita hanya perlu merenungkan sehingga kita mengenal, menghargai dan mengembangkan rasa tanggung jawab atas talenta dan pengetahuan yang kita miliki. Kita perlu bertanya pada diri sendiri mengenai hakikat diri dan makna kehadiran kita di dunia maupun di tempat-tempat tertentu dimana kita berada dan bekerja. Dengan demikian kita akan di sadarkan mengenai panggilan kepemimpinan secara pribadi dan menghargaipanggilan kepemimpinan orang lain.

KESADARAN AKAN PANGGILAN KEPEMIMPINAN ADALAH BUKTI KESADARAN EKSISTENSI SESEORANG.

2. MENGEMBANGKAN KUALITAS IDEAL PEMIMPIN.

Orang yang menyadari panggilannya dan merasa beratnggung jawab untuk melaksanakannya dengan baik, dengan sendirinya akan berbenah diri dan berupaya mengembangkan talenta serta mempelajari ilmu yang ia perlukan. Ia akan berupaya memelihara kesehatannya agar ia dapat mengemban tugas- tugas kepemimpinan yang di bebankan kepadanya, Kalau ia beriman, tentu ia juga membereskan hubugannya dengan Tuhan dan dengan sesamanya agar memiliki keseimbangan dalam hidupnya. Ia peduli terhadap kualitas kepemimpiannya, karena ia peduli pada kualitas kinerja nya.

KEMAUAN UNTUK MENGEMBANGKAN KUALITAS IDEAL KEPEMIMPINAN ADALAH REFLEKSI DARI CITRA DIRI YANG BENAR.

3. MENETAPKAN VISI KEPEMIMPINAN.

Visi kepemimpinan adalah pemahaman mengenai hakekat kepemimpinan dan gambaran mengenai keadaan yang ideal dari orang-orang yang di pimpinnya di suatu saat di masa depan.

Setelah seseorang berbenah diri, berusaha memenuhi syarat- syarat dasar untuk menjadi pemimpin dan sedapat mungkin meningkatkan kualitasnya, maka tugas nya yang pertama adalah di dalam organisasi menentukan visi. Bila organisasi tidak memiliki visi, maka organisasi tersebut tidak akan memberi manfaat bagi anggotanya bahkan hancur dengan sendirinya. Demikian juga hal nya dengan pemimpin, ia harus memiliki visi kepemimpinan.

Visi kepemimpinan harus sejalan dengan visi organisasi. Visi kepemimpinan harus di rumuskan oleh pemimpin, sedangkan visi organisasi harus di rumuskan bersama oleh pemimpin dan orang-orang yang di pimpin. Kedua visi tersebut harus di tuangkan dalam pernyataan-pernyataan visi atau vision statemen. Jadi selain pernyataan visi organisasi, harus ada pula visi kepemimpinan.Organisasi yang jelas visinya tidaklah akan sulit menyusun pernuyataan visinya. Sebaliknya organisasi yang tidak peduli mengenai pernyataan visi sebenarnya tidak peduli mengenai masa depan organisasi.

Dalam menetapkan visi kepemimpinan kita menetapkan pula prinsip-prinsip pijakan dan nilai-nilai yang menjadi ukuran untuk pertimbangan dalam membuat keputusan. Rumusan mengenai keadaan ideal organisasi di suatu saat ini di masa depan (vision statement) adalah penentu arah dari usaha dan gerakan organisasi.

VISI MENETAPKAN CORAK, PERILAKU DAN TUJUAN ORGANISASI DALAM JANGKA PANJANG.

4. MEMBUAT KOMITMEN YANG TEGAS DAN KUAT

Setelah visi Jelas, maka di tetapkan pula misi yang merupakan garis-garis besar kegiatan yang mengungkapkan komitmen untuk merealisasi visi.

Pemimpin harus memiliki komitmen pribadi terhadap visi, sehingga misi organisasi adalah juga misi pribadinya.

Rumusan misi selanjutnya di pakai untuk menentukan peran-peran yang akan di mainkan oleh setiap pemimpin dalam organisasi. Suatu organisasi akan berhasil menjalankan misinya kalau para pimpinan nya menjalankan peran secara efektif. Agar efektif, para pimpinan harus membatasi diri dalam memilih jenis dan jumlah peran. Pilihlah peran yang sesuai dengan bakat, talenta, pengetahuan, dan kemampuan yang ada. Batasilah peran yang di mainkan sehingga perhatian, tenaga dan sumber daya yang ada dapat di manfaatkan secara terfokus.

Sebagaimana hal nya visi, misi organisasi juga harus tertuang dalam satu pernyataan yang di sebut mission statement. Bila suatu organisasi tidak memiliki mission statement, maka akan terjadi kekacauan atau kebingungan dalam menjalankan organisasi. Orang tidak akan tahu membedakan mana yang penting dan mana yang tidak penting sehingga terus menerus di teror oleh hal-hal yang mendesak. Hal-hal mendesak belum tentu penting bagi organisasi.

  • KOMITMEN ADALAH TENAGA PENDORONG UNTUK MAJU DAN DAYA PEREKAT UNTUK BERTAHAN*

5. Menyesuaikan Perilaku dan Komitmen

Berperilaku sesuai prinsip, nilai-nilai dan berusaha mewujudkan visi kepemimpinan sesuai dengan komitmen adalah ciri-ciri orang yang memiliki Integritas.

Ada dua macam Integritas yaitu internal dan eksternal . Integritas Internal menyatunya nilai-nilai fisik, Intelektual dan spiritual seseorang. Integritas eksternal adalah menyatunya perkataan dan perbuatan. Integritas internal adalah prasyarat Integritas Eksternal.

Integritas akan menumbuhkan lepercayaan diri pemimpin dan juga kepercayaan orang lain terhadap diri sendiri dan kepemimpinannya.

6. Mengakui Kesalahan dan memperbaiki diri.

Sebaik-baiknya dan sepandai-pandainya nya pemimpin, pada suatu saat dia akan pernah keliru dan berbuat kesalahan. Dala hal demikian integritasnya ( eksternal dan internal) akan terganggu. Bila hal demikian terjadi , ia harus mengakui kekeliruan atau kesalahannya dan segera memperbaiki diri.

Bila orang lain berbuat kesalahan, Ia juga dalam posisi sama seperti yang kita alami. Ia membutuhkan pengampunan dan pengertian orang lain, sehingga ia bisa kembali. pemimpin harus bersedia membantu rekan atau orang yang di pimpinnya untuk memperbaiki diri.

Membantu orang lain memperbaiki diri mengandung resiko, sebab kita harus berani menunjukan kekeliruan atau kesalahannya. Resiko pertama yang mungkin terjadi adalah penolakan dari orang terkait atas usaha kita memperbaiki dirinya.

Resiko kedua yaitu bahwa usaha kita memperbaiki orang lain mengakibatkan perlawanan atau serangan balik. Orang akan mencari – cari kesalahan dan kelemahan kita untuk di jadikan alasan penolakan tersebut. Resiko ini bisa di hindari apabila pemimpin memang telah berhasil dalam momentum sebelumnya, yaitu mengakui kesalahan dan telah memperbaiki diri.

Resiko yang lain ialah tuntutan pengorbanan terhadap pemimpin. Sangatlah berat untuk kita memberikan kesempatan pada orang lain untuk memperbaiki diri kalau kesalahannya tealah merugikan diri pemimpin secara langsung. Dalam hal demikian, pemimpin diminta untuk berkorban. Kesediaanya berkorban akan menumbuhkan nilai- nilai yang mulia dalam kepemimpinan dan kehidupan berorganisasi. Ini tidak berarti resiko tidak ada. pengampunan bisa dianggap sebagai kelemahan. Anggapan demikian merupakan suatu resiko tersendiri dalam kepemimpinan.

Kesediaan kita membantu orang lain memperbaiki diri akan menumbuhkan nilai- nilai luhur, rasa saling percaya dan saling menghormati dan saling mengasihi.

8. Melepas Hak Kepemimpinan

Pemimpin yang berhasil cenderung di puji bahkan di puja oleh orang banyak. pemimpin yang berhasil cenderung mempertahannkan posisi kepemimpinannya, entah karena kemauan sendiri atau karena kemauan orang lain. Keberhasilan se akan- akan membuatnya paling berhak atas posisi kepemimpinan.

Selain hak atas posisi kepemimpinan, Ia juga cenderung berhak mengklaim penghargaan atas keberhasilannya. Hal demikian sangat wajar secara manusiawi. Orang yang berhasil dalam karyanya harus di hargai.

Namun demikian di balik kewajaran tersebut ada bahaya, dimana ia tidak lagi mengakui peran orang lain yang turut menentukan keberhasilannya. Ia lupa nahwa ia di sebut pemimpin karena karya orang-orang yang di pimpinnya. Ia lupa bahwa ia di sebut pemimpin karena ada orang yang bersedia menjadi pengikutnya.

Ia menyangka bahwa kepemimpinannya adalah hak absolut. Ia mungkin berfikir bahwa pengikut ada karena ada pemimpin. Keadaan seperti inilah yang menjatuhkan banyak pemimpin.

Pemimpin bisa berubah sejalan dengan berlalunya waktu. Keberhasilan- keberhasilan yang di capainya bisa merubah nilai-nilai yang pernah di milikinya. Bukan tidak mungkin bahwa nilai-nilainya tersusupi oleh nilai-nilai yang berasal dari orang-orang yang sengaja memanfaatkan posisinya sebagai pemimpin. Orang yang demikian biasanya berada dekat sekali dengan pemimpin, karena itu susupan nilai tersebut tidak di sadari.Setelah waktu berlalu, maka nilai- nilai susupan tersebut telah menjadi bagian dari diri si pemimpin, dan sulit baginya untuk mengenal mana yang asli dan mana yang susupan.

Dalam Hal demikian pemimpin tidak peka lagi terhadap suara-suara orang-orang di sekelilingnya. Orang yang ada di sekelilingnya akan memberlakukan pemimpin sebagai milik mereka. Mereka tidak rela bila pemimpin melepaskan hak kepemimpinannya.Sebaliknya mereka akan berjuan untuk mempertahankan hak-haknya tersebut. Tapi tujuan perjuangan nya bukan untuk kepentingan pemimpin, tetapi bagi diri mereka. Dalam keadaan seperti itu, si pemimpin akan terisolasi dari orang banyak. Tanpa sadar ia sudah mengalami perubahan nilai.

Pemimpin sejati menyadari bahwa ia menjadi pemimpin karena ada pengikut. Ia berhasil karena orang yang di pimpinnya mau melakukan yang Ia perintahkan. Ia memiliki kewajiban untuk memimpin, tapi hak kepemimpinan merupakan pemberian dari orang-orang yang di pimpinnya. Pemimpin sejati akan mengembalikan mandat kepada pihak yang berhak, yaitu orang-orang yang mengangkatnya sebagai pemimpin. Kesadaran seperti ini dapat membantunya untuk tidak terperangkap oleh manipulasi dari orang-orang dekat yang ada di sekelilingnya. Sebaliknya dia yang mempengaruhi mereka.

PEMIMPIN HARUS IKHLAS MENYERAHKAN HAK KEPEMIMPINANNYA KEPADA YANG LEBIH BERHAK. KARENA ITU IA AKAN TETAP DI KENANG, DI HORMATI DAN DI KASIHI OLEH ORANG-ORANG WALAUPUN IA TIDAK MEMIMPIN LAGI SECARA FORMAL. IA IKHLAS MELEPASKANNYA, MAKA KEPADANYA DI BERIKAN HAK YANG ABADI.ITULAH PEMIMPIN SEJATI.

Kepemimpinan Transformasional

Kedelapan momentum diatas, bila di lewati dan di laksanakan dengan baik akan menghasilkan kepemimpinan transformasional.

Pemimpin transformasional memiliki kharisma. Karena ia memiliki visi dan misi yang jelas. Ia memiliki misi ilahi yang mewarnai misi dan visi organisasi atau komunitas dimana ia berada. Ia memiliki semacam kebanggaan yang di hormati dan di percayai. Ia merupakan sumber inspirasi bagi pengikutnya, karena ia dapat mengkomunikasikan harapan-harapan dan tujuan-tujuan yang mulia, Ia memberikan ransangan intelektual, memperkaya pengetahuan, rasionalitas dan pemecahan masalah. Ia juga memperhatikan anggota secara perorangan. Ia menjadi coach dan penasihat bagi pengikutnya. Ia melihat pengikutnya ataupun anak buahnya sebagai mitra kerja. Ia sanggup memberdayakan kelompok ini dimana ia berada dalam satu komunitas yang produktif. Ia adalah pemimpin yang memiliki sifat dan sikap melayani.

Daftar pustaka :

  1. Gardner, John W. On leadership, New york, the free press, 1990 p.1
  2. Hanggai, John, Lead on, Dallas, word publishing, 1983. p.4
  3. Lenive, Stuart R. & Cromp, Michael A, The leader in you, newyork, Simon & Schuster 1993, P.21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.