PERAN FASILITATOR / INSTRUKTUR IV

Menyendiri juga sangat membantu dalam refleksi.Memberi waktu untuk menyendiri merupakan teknik yang memerlukan kepekaan dan kehati hatian. Dalam pelatihan Outwardbound yang akarab dan intensif sering nampak peserta / siswa memerlukan kesempatan menyendiri atau menyepi. Dan untuk mempersiapkan kesempatan itu jelas dipikirkan tentang maksud menyendiri itu, persiapannya,lingkungan dan lamanya. Gunanya untuk mengumpulkan pemikiran- pemikiran refleksi, reorganisasi, dan istirahat. Di Outwardbound hal ini sering di arahkan ke aktifitas “solo”. Dulu di salem school, Kurt Hann sering memberikan waktu selama 2 jam kepada siswanya di hari minggu untuk berjalan – jalan sendirian. Kadang membaca kadang menulis tugas dapat membantu aktifitas tersebut.

Namun lamanya dan keadaan lingkungan haruslah di pertimbangkan. terkadang lingkungan yang kurang bersahabat memaksa siswa untuk sekedar survival. Juga waktu solo yang terlalu lama bisa mempengaruhi keadaan psikologis peserta.

F. Akhirnya, harus diingat bahwa belajar memahami arti itu perlu waktu. Belajar yang paling baik adalah apabila dilalukan dalam keadaan suasana kesabaran dan mau menerima. Tak ada yang bisa menjamin bahwa suau campur tangan tertentu dari Instruktur bisa memberikan perubahan dan tingkah laku atau pemahaman tertentu. Siswa perlu waktu dan dorongan. Mengajar adalah seperti menabur benih, ada yang jatuh ketanah berbatu, di antara onak berduri, dan ada yang di tanah subur.pencarian arti tidak bisa di paksakan.Perubahan yang sehat cenderung lambat.

PERKEMBANGAN TRANSFER BELAJAR

Transfer belajar terjadi bila pemahaman siswa terhadap sebuah situasi lain. Pelatihan tentang kebiasaan pada situasi tertentu akan bagus bila bisa memastikan bahwa kebiasaan tersebut bisa secara konsisten di terapkan untuk menghadapi lingkungan baru. Kata “transfer” mengacu pada pengembangan fungsi-fungsi pengawasan (kontrol) untuk menggerakan sistem respon terhadap situasi dan lingkungan yang beragam.

Pertanyaan : Bagaimana dan seberapa jauh pemahaman akan pengetahuan, ketrampilan dan sikap pada satu situasi mempengaruhi pemahaman yang sama pada situasi yang berbeda?

Program Outward bound adalah tentang pengalaman- pengalaman baru, dimana siswa secara kontan di hadapkan menghadapi tantangan dan situasi baru yang berhubungan dengan rasa takut dan bagaimana mengatasinya. Lalu siswa di harapkan kembali ke lingkungan mereka dan mempraktekan belajar mereka dalam kehidupan sehari hari. Transfer tidak hanya melibatkan elemen-elemen ataupun pemahaman umum, tetapi juga respons individu. Siswa bisa menangkap pelajaran yang di berikan, namun itu bukan jaminan adanya transfer.Lebih penting adalah motivasi untuk menggunakan pemahaman tersebut dalam tindakan nyata.

Lalu apa peranan instruktur sebagai penerjemah?beberapa saran bisa di kemukakan disini. :

  1. Program yang di buat jangan hanya :game-game” saja tapi di hubungkan dengan keadaan dan pengalaman keseharian siswa.Misalnya dalam melayani sesama, Instruktur perlu memberi penekanan tentang melayani sesama dalam keseharian. Usahakan jangan kegiatan dalam program itu justru membatasi pemahaman umum tersebut.

2. Instruktur lebih dari sekedar menyiapkan waktu untuk refleksi. Mereka perlu mendorong tentang pemahaman umum untuk terselenggarakannya transfer., terlebih lagi mereka perlu membantu siswa untuk melihat mereka agar bisa di bandingkan secara realistis terhadap aspek-aspek kehidupan. Situasinya mungkin berbeda tapi tekanan dan masalahnya hampir sama. Mengatasi kebosanan dan beratnya Hiking mirip dengan mengatasi kebosanan dan beratnya kerja sehari hari. Terkadang siswa sulit menghubungkan hal itu. Ini merupakan tantangan bagi Instruktur untuk membuat mereka melihat dan percaya akan nilai tersebut.

3. Transfer bisa juga di tingkatkandengan penekanan adanya konsekensi dalam hubungan nya denga pemecahan masalah dan tanggung jawab siswa. Tindakan tanpa konsekuensi akan mudah terlupa dan cenderung kurang berarti. Sebaliknya pengalaman yang terstruktur baik akan menghasilkan nilai yang bisa di aplikasikan dalam pengambilan keputusan selanjutnya.

4. Pengulangan memainkan peranan penting dalam transfer belajar. Praktek yang ekstensif terhadap suatu tugas akan meningkatkan kemampuan menerapkan ilmu dan keterampilan. Instruktur perlu pemahaman baru mereka dalam konteks program. Keberhasilan yang di ulang – ulang akan mendorong sikap dan tingkah laku baik yang diinginkan instruktur.

5. Akhirnya, Instruktur perlu memberikan model seperti apa dia harapkan dari para siswa.Model hidup membantu siswa dapat gambaran seperti apa perubahan yang diinginkan selama mengikuti program itu dan sesudahnya. Pengenalan ini merupakan kebutuhan yang paling mendalam, taitu kebutuhan untuk memvisuapisasikan apa yang masih jadi gambaran abstrak kedalam sesuatu yang kongkrit. Bila sikap instruktur dalam memagang pelatihan tidak bisa menjadi model bagi siswa, sebaiknya cari pekerjaan lain saja. Tidak ada satupun aspek pribadi instruktur yang bebas dari kemungkinan di tiru dan di terapkan dalam kehidupan siswa,Instruktur harus sada akan peran tersebut.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.