PERAN FASILITATOR – INSTRUKTUR III

Langkah awal pengembangan pemahaman umum adalah meyadari reaksi emosi dalam bentuk pikiran dan perasaan. Bila siswa tidak menyadari perasaan mereka, mereka akan sulit belajar.Rasa takut misalnya merupakan emosi yang dengan cepat terlupakan atau terhindari.Instruktur bisa mengambil kesempatan untuk melakikan sharing berpasangan atau dengan kelompok.Pada saat siswa masih bisa merasakan ketakutan itu. Objektif nya adalah menjadikan rasa takut itu “guru” dengan cara melawannya.

Pada saat siswa bisa di ajak untuk mengungkapkan dengan kata- kata rasa takut nya. dia diajak lebih dekat lagi pada perasaan itu dan menjadi bisa memahami dan mengatasinya. Sering gangguan emosi diakibatkan oleh persepsi yang keliru tentang realita. Bila ada persepsi yang tidak rasional tentang lingkungan, siswa bisa di bimbing untuk mengidentifikasi hal tersebut dan mengganti dengan persepsi- persepsi lain yang lebih logis. Ungkapan kata- kata bukanlah tujuan tetapi sebagai sarana untuk penyadaran diri, berfikir reflektif dan perubahan tingkah laku.

Instruktur bisa menggunakan berbagai cara untuk mendorong pengungkapan ini. Bisa dengan menulis buku jurnal, diskusi berpasangan 1:1, atau kelompok. Karena masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya, bagusnya instruktur merancang cara- cara yang bervariasi bagi kelompoknya. Kelebihan buku jurnal adalah bahwa perasaan itu – yang ditulis akan tetap terekam meskipun penulis sudah tidak lagi takut.

Sharing berpasangan memungkinkan interaksi pribadi yang intensif yang bisa membantu siswa lebih bebas untuk mencurahkan emosinya dan implikasi- implikasinya. Diskusi kelompok memberikan keuntungan dengan banyaknya masukan dari anggota- anggota kelompok. Semua bentuk sharing ini haruslah di ungkapkan dengan kata- kata baik tertulis atau lisan. Langkah ini merupakan sarana dimana siswa mulai mengartikan apa yang baru saja mereka alami. Hal ini meningkatkan kesadaran dirinya dan pada saat yang sama juga menambah kemampuan siswa untuk berfikir. Jadi sebagai pendidik haruslah menyediakan situasi dimana siswa di dorong untuk mengenali kualitas pengalaman mereka.

c. Setelah pengalaman di ungkapkan, instruktur mulai bisa mengarahkan ke pemikiran yang lebih teratur.Inilah belajar yang sesungguhnya.Belajar nyata bisa terjadai bila siswa secara aktif menggunakan kesadarannya yang mana mempengaruhi konsep pribadinya dan hubungan dan hubungan dia dengan lingkungan. Kesimpilan logis tercapai dan siap di integrasikan dan di implementasikan. Satu contoh bisa di lakukan misalnya sebuah group di suruh berhenti di tengah padang rumput. Anggotanya diminta untuk mengeluarkan buku jurnal dan mencatat beberapa pertanyaan yang sudah di siapkan. Lalu masing masing di minta untuk saling berjauhan dan mencari jawaban atas pertanyaan- pertanyaan tersebut. Setelah beberapa saat, instruktur meminta mereka kembali dalam lingkaran dan mendiskusikan jawaban- jawaban terssebut lalu mencari pemecahan masalah bersama terhadap ,asalah- masalah tersebut. Diskusi ini di harapkan menghasilkan komitmen untuk mendukung kelompok tersebut.

d. Penggunaan buku jurnal memainkan peranan penting dalam kualitas belajar siswa. Hal tersebut merupakan bagian dari program namun instruktur harus memberikan perhatian yang cukup terhadapa keberadaan buku jurnal itu. Apakah buku jurnal itu? semata mata merupakan rekaman tertulis tentang pengalaman dan hubungan seseorang dengan pengalaman tersebut. Merupakan usaha untuk melihat situasi secara objektif. Pemikiran perasaan dan apa yang ada di batin pribadi semuanya. di rekam dengan gayanya si penulisnya sendiri.Peulisan jurnal sebaiknya di lakukan sesegera mungkin setelah mengalami aktivitas.

Untuk meminimalkan adanya gangguan kelupaan ataupun hal lainnya. Tindakan menulis mendorong suatu proses menjernihkan pikiran dan sering memberikan kontribusi terhadap tingkat pemahaman dan motivasi pribadi tapi juga mendorong komunikasi kelompok dan sesi umpan balik. sekalinya pengalaman terekam, kemudian bahkan kesadaran yang lebih tinggi dan bertambahnya objektivitas. Buku jurnal adalah merupakan tantangan tersendiri bagi instruktur karena bagi siswa dalam keadaan tidak nyaman mengisi jurnal adalah tidak penting. Kepemimpinan instruktur merupakan faktor terpenting kunci keberhasilan aktivitas ini. Penugasan jurnal sejak hari pertama adalah suasana yang menjanjikan dan dengan memberi keyakinan privasi sangatlah penting.Instruktur juga bisa memberikan kesempatan kepada siswa untuk sharing apa yang dia tulis dalam diskusi atau sharing berpasangan atau secara sukarela.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.