PERAN FASILITATOR – INSTRUKTUR II

Sesuatu yang di dapat dari pengalaman baru lebih baik di pergunakan pada saat hal tersebut bisa di jabarkan dalam bentuk pemahaman umum.Pemahaman umum merupakan suatiu perluasan arti / mengandung benang merah dari sesuatu yang khusus. Pemahaman umum bisa merupakan pemikiran, prinsip maupun konsep. Penelitian membuktikan bahwa siswa yang belajar tanpa adanya pemahaman akan sering melakukan kesalahan karena dia tidak mampu untuk menyesuaikan hal baru tersebut dalam situasi dan kondisi yang berubah.

Seperti telah di sebutkan bahwa sangat tidak memdidik bila menggangap siswa selalu dapat belajar dari pengalaman baru.Justru pengalaman atau pembelajaran siswa merupakan hasil cerminan pengalaman mereka dan kesimpulan – kesimpulan logis. Biasanya kemampuan berrefleksi siswa seimbang dengan kemampuan ketahanan jasmani mereka. Faktor ini yang menyebabkan setiap siswa tidak memiliki perkembangan yang sama, meskipun kita telah merancang pengalaman mereka secara seksama. Pendidik James Coleman menekan kan hal ini.

Bagian paling lemah dari proses eksperential learning adalah pada langkah ketiga yakni memahami dari pengalaman khusus ( tertentu) ke arah prinsip dari pemahaman umum yang bisa di terapkan dalam situasi yang lain.Siswa sepertinya memiliki kemampuan yang tidak sama dalam memetik sebuah prinsip umum dari kejadian khusus.sehingga beberapa orang bisa terpaku secara berulang – ulang melakukan hal yang sama tanpa memperluas pemahamannya terhadap kasus lain sementara beberapa lainnya secara tepat bisa memetik suatu pemahaman.

Faktor yang mungkin membedakan adalah kualitas refleksi lebih dari sekedar mengira ngira lalu dengan cepat menarik kesimpulan. John Dewey mengatakan bahwa seseorang pemikir adalah yang mendasari pada logika.Bila dia ingin keyakinan maka dia mengambil bukti untuk menunjang logika nya. disinilah refleksi berperan.

Disinilah Instruktur haru secara hati- hati memilih metode untuk mendorong kebiasaan berfikir secra reflektif. Bagaimana Instruktur sebagai penerjemah memainkan peranan dalam proses ini? dibawah adalah beberapa saran dan pemikiran:

a.Pertama tama harus secara ekspilisit di mengerti bahwa pengalaman tertentu belum tentu memberikan arti tertentu pula. Kurang bijaksana bila berangapan bahwa siswa akan selalu mendapat pemahaman yang di rugikan begitu dan selesai mengalami aktifitas tertentu. Pemahaman bukan di dapat semata mata dari aktivitas tersebut tetapi sesuatu yang di sertakan dalam aktifitas pengalaman tersebut. Dua orang tidak mungkin memiliki pemahaman yang sama persis meski kduanya memiliki pengalaman yang sama. Siswa harus di bebaskan mengartikan pengalaman mereka sesuai dengan persepsi mereka. Dengan begitu merekan akan membuat penerapannya dalam situasi lain secara pribadi pula


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.