PERAN FASILITATOR – INSTRUKTUR ( I )

Deskripsi Peran :

Peran seorang Failitator / Instruktur jauh dari sekedar mengajarkan ketrampilan – ketrampilan yang perlu tentang suatu lingkungan baru dan merancang pengalaman- pengalaman yang mendidik, banyak orang yang berhenti sampai disini namun itu berarti menurunkan derajat dan tanggung jawab pengajaran. Pemikiran bahwa pengalaman saja sudah cukup adalah picik. Di bandingkan hanya membiarkan “sang gunung memceritakan dirinya sendiri”, seorang fasilitator / instruktur yang efektif akan sering menjadikan dirinya sebagai jembatan antara siswa dan pengalaman. Dia akan memainkan peranan sebagai jembatan antara siswa dan pengalaman. Dia akan memainkan peranan sebagai sarana untuk membantu setiap siswa menerjemahkan pengalaman mentah mereka dengan kata kata yang konsep yang tertata yang pada akhirnya akan memperkaya pengalaman tersebut dengan arti dan pemahaman. Meskipun sebagian dari hal ini mungkin di lakukan sendiri oleh siswa. Namun di maksimalkan oleh campur tangan fasilitator / instruktur kalo tidak pengalaman ini hanya sekedar latihan ketahanan jasmani, cuci mata, ataupun sekedar rekreasi. Ini adalah bukan pendidikan terbaik.

Arthur Holmes membuat dua pernyataan tentang kurangnya efisiensi suatu pengalaman yang tidak di kaji :

  1. Pengalaman saja bukanlah pemahaman. Pendidikan memerlukan pemahaman. Jadi pengalaman saja bukanlah pendidikan.
  2. Pengalaman secara primer efektif. Pendidikan secara primer tidaklah efektif tapi harus di lakukan pada pribadi secara menyeluruh sehingga pengalaman saja tidak cukup bagi pendidikan.

Pernyataan – peryataan tersebut mengingatkan bahwa pendidikan secara lekat dikaitkan dengan proses mental. Meskipun “learning by doing” merupakan konsep pendidikan yang menarik dewasa ini. Namun kurang cukup mewakili apa yang secara nyata terlibat.lebih jauh.Holmess mengakui bahwa pengalaman bisa jadi mendidik bahkan meskipun pengalaman tersebut tidaklah mendidik. Pengalaman harus di manusiakan bila hal itu harus mendidik. Pengalaman haruslah di manusiakan apabila melibatkan aktifitas yang secara rasional di beritahukan dan bersifat self kritis. dan memberikan kontribusi bagi pengembangan insan manusia. peran sebagai penerjemah tidaklah semudah mendefinisikannya. Seperti halnya bentuk = bentuk intervensi yang lain. Ada kalanya semacam “indokrinisasi” dan saat tidak terlibat.

Tantangannya adalah sebagai Fasilitator / Instruktur suatu proses yang mana pengalaman terisi dengan arti dan pemahaman dan kemampuan memneri perubahan dalam sikap dan tingkah laku. Kegiatan memfasilitasi bukanlah menafsirkan pengalaman siswa bagi diri instruktur atau juga membiarkan sebuah pengalaman begitu saja. Tapi mengarahkan pemikiran siswa untuk menyimpulkan. Persis nya, berhubungan dengan pengembangan pemahaman umum yang sedang terjadi dan transfer pengajaran.Kedua hal inilah kunci keberadaan kategori pengetahuan dan pola- pola tingkah laku.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.